BSINews.id | Banda Aceh – Kepala Perwakilan Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Banda Aceh, Yuni Eko Hariyatna atau Dato’ Embonk, mendesak pemerintah pusat dan otoritas penerbangan untuk segera menambah rute serta frekuensi penerbangan ke Aceh. Langkah ini dinilai penting untuk mempercepat penyaluran bantuan di tengah meluasnya bencana banjir yang membuat sejumlah jalur darat lumpuh total.
Dato’ Embonk menegaskan bahwa penambahan penerbangan merupakan kebutuhan mendesak untuk memastikan suplai bahan pangan, obat-obatan, perlengkapan bayi, serta mobilisasi relawan dapat berjalan cepat dan tepat sasaran.
“Situasi di lapangan tidak bisa menunggu. Bantuan harus bergerak cepat, dan satu-satunya jalur yang masih efektif adalah udara. Pemerintah wajib menambah penerbangan segera,” ujarnya.
YARA meminta rute Banda Aceh Medan, yang kini hanya tersedia satu kali sehari, ditingkatkan menjadi empat penerbangan harian. Rute tersebut disebut sebagai jalur vital suplai logistik dari Sumatera Utara, tempat masuknya bantuan dari berbagai daerah dan lembaga nasional. “Setiap tambahan satu penerbangan berarti percepatan logistik bagi ribuan warga yang kini bergantung pada bantuan,” ujar Dato’ Embonk.
Selain rute utama Banda Aceh Medan, YARA juga mendorong perluasan konektivitas udara ke wilayah dengan dampak banjir paling parah dan akses darat terputus, seperti Lhokseumawe, Aceh Tengah, dan Gayo Lues. Rute Banda Aceh–Lhokseumawe diminta ditambah satu penerbangan, sementara jalur Banda Aceh–Aceh Tengah, Aceh Tengah–Medan, serta Banda Aceh–Gayo Lues dan Gayo Lues–Medan diharapkan diperbanyak untuk memudahkan masuknya bantuan ke daerah yang kini terisolasi.
YARA menyebut rute-rute tersebut sebagai koridor kritis yang harus segera diperkuat. Minimnya penerbangan disebut menyebabkan penumpukan logistik dan keterlambatan pendistribusian bantuan yang semakin memperburuk kondisi ribuan pengungsi. “Penambahan penerbangan akan mengurangi bottleneck bantuan. Tidak ada alasan menunda keputusan ini, karena taruhannya adalah nyawa warga yang sudah berhari-hari menunggu,” tegas Dato’ Embonk.
YARA berharap pemerintah mengambil langkah cepat dalam 24–48 jam agar suplai logistik dapat dipercepat sebelum kondisi di lapangan semakin memburuk. Tekanan publik kepada pemerintah pusat diperkirakan semakin menguat mengingat banjir di Aceh belum menunjukkan tanda-tanda surut dan sejumlah wilayah masih dalam kondisi terisolasi.

