BSINews.id | Banda Aceh – Rencana Pemerintah Aceh membuka jalur ekspor komoditas lokal ke Malaysia melalui rute laut Krueng Geukueh–Penang mendapat respons positif dari Saudagar Aceh Malaysia. Dukungan itu disampaikan oleh Datuk Mansyur Usman dalam Seminar Nasional Ekspor-Impor Berbasis Komoditi Lokal di Banda Aceh, Sabtu, 22 November 2025.
Mansyur mengatakan bahwa potensi komoditas Aceh, terutama padi dan beras, sangat besar untuk dipasarkan ke Malaysia. Ia menjelaskan, komunitas Aceh di Malaysia yang jumlahnya mencapai ratusan ribu orang beserta para pengusaha diaspora, siap membuka ruang kerja sama jika Aceh mampu memasok komoditas secara berkelanjutan.
“Di Malaysia ada banyak warga Aceh, termasuk puluhan ribu pengusaha asal Aceh. Karena itu, saya menyambut baik gagasan Pemerintah Aceh untuk memperkuat ekspor komoditas lokal, terutama padi dan beras. Potensi itu besar sekali,” ujar Mansyur, Sabtu, 22 November 2025, dalam seminar nasional ekspor-impor berbasis komoditas lokal di Banda Aceh.
Ia juga menyoroti rantai distribusi padi Aceh yang dinilai kurang menguntungkan petani. Menurutnya, gabah dari berbagai daerah di Aceh selama ini lebih banyak dibawa ke Medan untuk diproses menjadi beras, lalu masuk kembali ke Aceh sebagai produk jadi.
“Selama ini padi Aceh banyak dibawa ke Medan untuk dijadikan beras dan kemudian kembali dipasarkan ke sini. Skema seperti itu tidak memberikan nilai lebih bagi petani dan pelaku usaha lokal,” katanya.
Para pengusaha Malaysia, lanjutnya, membuka peluang kerja sama dengan BUMD dan perusahaan Aceh untuk memasok beras melalui jalur laut Krueng Geukueh–Penang. Malaysia masih mengimpor sekitar sepertiga kebutuhan berasnya dari negara-negara Asia, sehingga Aceh dinilai memiliki peluang strategis baik dari sisi kualitas maupun jarak.
“Kalau Aceh bisa memasok secara rutin, itu akan sangat menguntungkan kedua pihak. Kedekatan geografis menjadi keunggulan yang tidak dimiliki banyak daerah lain,” tambahnya.
Selain beras, Mansyur menilai komoditas lain seperti sawit, udang, tuna, dan aneka produk perikanan dari Aceh sangat berpotensi untuk masuk ke pasar Malaysia. Ia mengungkapkan bahwa bahkan ada beberapa perusahaan Malaysia yang sudah meninjau potensi perikanan Aceh, termasuk di Lampulo.
Mansyur juga menyarankan agar Pemerintah Aceh memperkuat komunikasi dengan jaringan pedagang dan pengusaha Aceh di Malaysia. Ia mencontohkan bahwa setiap hari terdapat kapal kayu berkapasitas besar yang mengangkut berbagai komoditas dari Sumatera menuju pelabuhan Malaysia.
“Setiap hari ada kapal-kapal yang masuk ke Belawan dan Tanjung Balai membawa barang dari Sumatera. Kalau Aceh mau bersaing, kita harus siap kirim produk secara teratur kalau bisa mingguan,” ujarnya.
Ia turut membuka peluang kerja sama di bidang lain, termasuk suplai pupuk dari beberapa perusahaan di Aceh untuk kebutuhan perkebunan sawit Malaysia.
Mewakili para diaspora Aceh di Malaysia, Mansyur berharap program ekspor melalui rute Krueng Geukueh–Penang dapat berjalan mulai awal tahun 2026. Ia memastikan bahwa pelaku usaha di Malaysia siap mendukung jika Pemerintah Aceh mampu menyiapkan mekanisme distribusi yang stabil.
“Harapan kami jalur ekspor ini bisa dijalankan pada 2026. Komunitas Aceh di Malaysia siap mendukung selama pasokan komoditas dapat dipenuhi secara kontinyu,” tutupnya.

