BSINews.id | Aceh Barat – Terik mentari membakar langit Meulaboh pada Kamis siang, 10 April 2024, saat jarum jam menunjuk pukul 11.40 WIB. Di bawah langit yang panas menyengat, seorang pria dengan kaus oblong coklat lusuh, celana kain biru dongker, dan peci hitam yang telah pudar warnanya, tampak melangkah perlahan keluar dari kantor Dinas Sosial Kabupaten Aceh Barat. Langkahnya gontai, tanpa arah, seakan beban hidup yang ditanggungnya begitu berat, seberat kisah hidup yang membawanya sampai ke titik ini.
Namanya Bisran, meski ia sebelumnya dikenal dengan nama Lubis. Tak jelas alasan pergantian nama itu, namun yang pasti, pria kelahiran 1993 dari Desa Malelang Jaya, Kecamatan Terangun, Kabupaten Gayo Lues ini kini hidup dalam keterasingan dan perjuangan bersama istrinya yang tengah mengandung anak pertama mereka. Jelasnya sambil meneguk teh dingin yang disuguhkan oleh pelayan warung.
Bisran diamankan oleh petugas Satpol PP Aceh Barat karena diduga mengemis di salah satu pasar di kota ini. Setelah dibawa ke kantor Dinas Sosial untuk dibina, ia kemudian keluar sendiri berjalan kaki menyusuri jalan raya di depan kantor tersebut.
Di sebuah warung kopi kecil tak jauh dari kantor itu, beberapa warga yang melihatnya memanggil dan memberinya segelas air. Di sanalah kisah pilu Bisran mulai mengalir, perlahan namun penuh luka. Dengan suara lirih dan mata yang berkaca-kaca, ia mengaku mengemis demi biaya makan, pengobatan, dan persalinan istrinya. Istri yang ia titipkan di sebuah rumah sewa sederhana di Kota Meulaboh, dengan biaya harian Rp. 25 ribu uang yang baginya begitu sulit didapat.
“Baru semalam kami sampai di Meulaboh, dari rumah orang tua saya di Abdya,” ujarnya pelan.
Sudah lebih dari sepuluh tahun ia mengidap Diabetes Melitus (DM), penyakit yang perlahan merenggut jari tangan dan jari kakinya satu per satu akibat luka yang tak kunjung sembuh. “Saya sudah tidak bisa kerja berat. Dulu saya ngamen di Banda Aceh, sering bawakan lagu dangdut, terutama lagu favorit saya: ‘Doa Suci’ dari Imam S. Arifin,” kenangnya, mencoba tersenyum tipis.
Ia pernah menjual satu-satunya sepeda motor miliknya demi membeli alat karaoke, harapannya untuk mencari nafkah. Namun, karena kebutuhan mendesak, alat itu digadaikan seharga Rp500 ribu pada temannya, namun saat hendak ditebus, alat itu sudah dijual oleh temannya. “Padahal dulu saya beli mahal, satu juta rupiah,” katanya lirih.
Seketika, suasana di warung itu menjadi hening saat Bisran perlahan menyanyikan bait lagu “Doa Suci”. Suaranya parau, namun penuh perasaan. Air matanya jatuh perlahan, menyatu dengan bait-bait harapan yang ia lantunkan.
“Tuhan, penguasa jagat, T’rimalah doaku ini, Berikan kasih yang kucinta, Hidup yang penuh bahagia…” (salah satu bait lirik lagu)
Lanjutnya ia bercerita bahwa ianya tidak ada niat untuk mengemis. “Sebenarnya saya tidak mau mengemis,” ucap Bisran pelan, “tapi saya harus makan, saya harus berobat dan istri saya butuh biaya karena sedang hamil 5 bulan.”
Nasruddin alias Lemben Salah seorang seniman yang ikut nimbrung dimeja kami menyaksikan momen itu berkata, “Ini sangat luar biasa, suara dan kisah hidupnya menusuk hati, jika ada yang bisa memberinya bantuan berupa alat kesenian tarik suara mungkin ia bisa mencari rezeki dengan cara mengamen atau mungkin bisa dibawa kedapur rekaman” ujar lemben.
Sementara itu, Erdi Adnan, Kasi Trantib Satpol PP Aceh Barat yang sempat mendatangi lokasi, mengatakan bahwa pada dasarnya aktivitas mengemis dilarang di wilayah tersebut sesuai dengan Qanun yang berlaku. “Namun melihat kondisi beliau yang menderita penyakit DM dan istrinya ikut bersamanya, kami bawa dulu ke Dinas Sosial untuk dibina. Tapi kalau beliau bisa berubah profesi menjadi penyanyi jalanan yang menetap di satu tempat, itu akan jauh lebih baik, karena suaranya memang bagus,” ujarnya.