Pakar Halal Supply Chain Marco Tieman Soroti Pentingnya Penguatan Rantai Pasok di Indonesia

Pakar Halal Supply Chain Marco Tieman dalam Seminar Nasional Ekspor Impor Berbasis Komoditi Lokal. Foto: Malika Islami Arifa.

BSINews.id | Banda Aceh – Pakar Halal Supply Chain, Marco Tieman, menekankan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam sektor pertanian dan kuliner, namun masih tertinggal dalam penguasaan rantai pasok pada tahap tengah (midstream supply chain). Hal ini ia sampaikan saat tampil sebagai narasumber dalam seminar Nasional Ekspor Impor Berbasis Komoditi Lokal di Banda Aceh, Sabtu (22/11/2025).

Menurutnya, Indonesia unggul dalam produksi bahan baku dan industri kuliner, namun lemah dalam aspek perdagangan, pengolahan, dan hilirisasi.

Indonesia is very good at farming, and also at the end of the supply chain restaurants. But what is in between is also important, and that part is still missing,” ujar Marco.

Ia mencontohkan bagaimana restoran Indonesia di Belanda justru membeli bahan baku dari pedagang Thailand karena Indonesia belum maksimal menguasai jalur perdagangan produk sendiri.

Restaurants in Indonesia, they buy the product from Thailand… So, the trading is missing,” tambahnya.

Marco juga menyoroti bagaimana Belanda negara yang bahkan tidak memiliki pohon kelapa sawit menjadi salah satu pusat penyulingan (refinery) minyak sawit dunia. Menurutnya, Indonesia kehilangan nilai tambah karena tidak membangun klaster industri sendiri.

I was born in Holland, I never saw a palm tree in Holland. So why do they have palm oil refineries? Next to it, factories make products and sell them back to Indonesia.”

BACA JUGA:  Pelaku UMKM Lamkeunung Darussalam Sulap Ampas Kopi Jadi Briket LK Coffee

Karena itu, ia menekankan pentingnya Indonesia membangun industrial cluster yang kuat di dalam negeri untuk komoditas seperti kakao, kopi, dan minyak sawit. Menurutnya, Aceh juga memiliki peluang besar dalam sektor ini.

Di sisi lain, Marco menegaskan pentingnya desain kemasan dan penyesuaian produk dengan pasar internasional.

“Packaging is very important. China likes pink, Saudi Arabia likes gold. Every market has different tastes,” ujarnya.

Ia juga menyoroti tren global terhadap makanan sehat dan bersih (clean and healthy), serta pentingnya produsen di Aceh memenuhi standar internasional.

“People are willing to pay more for high-quality and healthy products.”

Meski produk Aceh secara umum telah memenuhi standar halal, Marco mengingatkan bahwa untuk masuk ke pasar ekspor kelas dunia, pelaku usaha diperlukan pemenuhan standar lainnya.

Marco menilai banyak UMKM di Indonesia masih terkendala standar kebersihan dan manajemen produksi, karena banyak yang masih berproduksi di rumah, sehingga sulit memperoleh sertifikasi.

Dengan potensi besar pada produk kopi, perikanan, minyak sawit, dan berbagai komoditas unggulan, ia mendorong Aceh dan Indonesia memperkuat sektor pengolahan, perdagangan, dan sertifikasi agar mampu menguasai rantai pasok global.