BSINews.id | Banda Aceh – Masyarakat Informasi Teknologi (MIT) Aceh menyatakan dukungan terhadap gagasan Pemerintah Aceh untuk menjadikan Aceh sebagai pusat keberangkatan umrah langsung (direct flight) ke Arab Saudi. Menurut MIT, gagasan ini memiliki nilai strategis baik dari sisi religius, transportasi, maupun potensi penguatan sektor ekonomi dan layanan digital di Aceh.
Namun, MIT menerima sejumlah laporan dari masyarakat terkait gagalnya pemberangkatan direct flight dari Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM), Aceh, pada Juli 2025, yang menyebabkan jamaah umrah harus dialihkan melalui Kualanamu (Medan) atau bahkan Kuala Lumpur.
“Banyak jamaah yang awalnya dijanjikan berangkat langsung dari Banda Aceh, tetapi pada akhirnya diarahkan ke rute alternatif. Inkonsistensi informasi ini jelas merugikan jamaah secara finansial, logistik, dan psikologis,” tegas Teuku Farhan, Ketua MIT Aceh.
MIT menilai kejadian ini mencerminkan lemahnya integrasi sistem informasi antara penyelenggara umrah, maskapai, dan otoritas bandara. Untuk itu, MIT Aceh mendorong:
- Transparansi informasi maskapai terkait jadwal dan rute penerbangan umrah dari Aceh, melalui kanal resmi dengan pembaruan real-time dan riwayat penerbangan.
- Integrasi sistem informasi penerbangan dan pelayanan jamaah, agar perubahan rute dan jadwal tidak disampaikan secara mendadak.
- Evaluasi komitmen maskapai yang mempromosikan direct flight dari Aceh tetapi gagal merealisasikannya.
- Perlindungan hak konsumen jamaah umrah atas layanan informasi yang akurat dan bertanggung jawab.
- Fasilitasi kanal aduan digital agar setiap laporan masyarakat dapat ditindaklanjuti cepat dan transparan.
MIT menegaskan bahwa ekosistem informasi digital harus diperkuat sejalan dengan pengembangan fasilitas fisik jika Aceh ingin menjadi pusat keberangkatan umrah yang profesional dan tepercaya.
“Komitmen terhadap keterbukaan data dan akuntabilitas layanan publik adalah kunci keberhasilan Aceh sebagai pusat umrah,” tutup Teuku Farhan.