BSINews.id | Banda Aceh – Kementerian Agama Provinsi Aceh menggelar Malam Anugerah Madrasah Young Researches Aceh (MYRA) dan Guru dan Tenaga Kependidikan Berprestasi Aceh (GTK Presa) di Banda Aceh, Senin (24/11/2025). Kegiatan ini menjadi ajang apresiasi bagi para peneliti muda madrasah serta guru-guru berprestasi yang telah melalui rangkaian seleksi panjang di tingkat provinsi.
Kabid Pendidikan Madrasah Kemenag Aceh, Khairul Azhar, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas antusiasme peserta dari seluruh Aceh.
“Alhamdulillah, malam ini kita dipertemukan dalam suasana penuh syukur. Semangat anak-anak kita dalam riset, serta dedikasi guru-guru madrasah dalam meningkatkan mutu pendidikan, menjadi energi besar untuk memajukan madrasah Aceh,” ujarnya, Senin, 24 November 2025.
Khairul menjelaskan bahwa pelaksanaan MYRA dan GTK Presa tahun ini berlangsung dengan dinamika tersendiri. Meski petunjuk teknis dari pusat sempat terlambat, antusias peserta tidak surut. Sebanyak 178 tim dari 21 kabupaten/kota mendaftar pada ajang MYRA, terdiri dari 78 tim tingkat MTs dan 104 tim tingkat MA.
“Proses seleksi berlangsung ketat. Dari 178 tim, mengerucut menjadi 112 semifinalis dan akhirnya 88 tim yang tampil di babak final. Mereka menunjukkan kualitas riset yang luar biasa,” kata Khairul.
Ia juga mengumumkan bahwa tiga tim dari Aceh berhasil meraih medali di tingkat nasional tahun ini. “Ini bukti bahwa talenta riset anak-anak Aceh luar biasa. Mereka mampu bersaing di kancah nasional,” ujarnya.
Untuk GTK Presa, tercatat 339 peserta mengikuti seleksi, jumlah yang melampaui partisipasi pada tingkat nasional. Dalam waktu dua hari, tim seleksi berhasil menyaring 134 peserta grand final, dan 88 nama telah diajukan untuk mewakili Aceh ke tingkat nasional dalam berbagai kategori seperti Guru Inspiratif, Guru Inovatif, Guru Dedikatif, dan Kepala Madrasah Berprestasi.
“Kami berharap para utusan Aceh nantinya mampu meraih hasil terbaik di tingkat nasional,” tambah Khairul.
Acara yang turut dihadiri jajaran Kanwil Kemenag Aceh, pimpinan lembaga pendidikan, serta para guru dari berbagai madrasah di Aceh ini ditutup secara resmi oleh Kepala Kanwil Kemenag Aceh, Azhari.

