BSINews.id | Banda Aceh – Himpunan Perawat Gawat Darurat dan Bencana Indonesia (HIPGABI) Provinsi Aceh bergerak cepat merespons eskalasi bencana hidrometeorologi yang melanda sebagian besar wilayah Aceh. Sejak Senin, 1 Desember 2025, tim HIPGABI Aceh turun langsung ke sejumlah kabupaten/kota terdampak banjir bandang dengan membawa bantuan tanggap darurat.
Ketua HIPGABI Aceh, Muhammad, mengatakan bahwa tim telah mengirim sembako dan hygiene kit ke Kabupaten Pidie Jaya dan Aceh Utara, dua wilayah yang dilaporkan mengalami kelumpuhan logistik akibat terputusnya jalur nasional. Penyaluran dilakukan setelah tim RAPID Assessment menemukan sejumlah titik pengungsian yang mulai kehabisan stok makanan.
“Kami menyasar kantong-kantong pengungsian yang sulit dijangkau. Ada warga yang terisolasi hingga empat hari akibat banjir setinggi tiga meter yang bahkan menutup atap rumah. Mereka mengungsi tanpa makanan dan tidak bisa memasak,” ujarnya.
Wakil Ketua HIPGABI Aceh, Ns. Rahmat Ardianto, menambahkan bahwa setelah distribusi logistik awal, HIPGABI juga bersiap membuka layanan pengobatan gratis. Menurutnya, risiko penyakit pasca-banjir mulai meningkat, terutama ISPA, diare, dan infeksi kulit yang sering muncul di lingkungan pengungsian padat.
Sementara itu, situasi di wilayah tengah Aceh terus memburuk. Data Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh per awal Desember menunjukkan bahwa banjir dan longsor telah memutus jalur vital ke Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues. Kondisi ini berdampak langsung pada pasokan pangan bagi ratusan ribu jiwa yang tinggal di daerah pegunungan dan sepenuhnya bergantung pada distribusi dari wilayah pesisir.
Lebih dari 526.000 jiwa tercatat terdampak di 18 kabupaten/kota, dengan sedikitnya 292.806 orang mengungsi ke 403 titik pengungsian. Angka korban jiwa juga terus bertambah, dengan laporan sementara mencatat lebih dari 156 orang meninggal dunia.
Pemerintah Aceh telah menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari dan berupaya membuka akses yang tertutup longsor dengan pengerahan alat berat. Untuk wilayah yang terisolasi total, distribusi bantuan kini dilakukan melalui jalur udara.





