BSINews.id | Aceh Barat –Pada kalender, tertulis 29 November 2025. Namun, bagi Gampong Jambak, Kecamatan Pante Ceureumen, hari itu adalah hitungan awal dari sebuah kehilangan besar. Banjir bandang telah surut, menyisakan lumpur, trauma, dan puing-puing yang merobek lanskap.
Di antara reruntuhan itu, saya, salah satu dari segelintir mata yang berhasil menembus kehancuran, mencari cerita yang tidak hanya tentang kerugian.
SDN Alue Lhok sebagian gedungnya telah tiada. Air tak selalu jernih; kadang ia datang membawa amarah cokelat, menelan tiang, merobohkan dinding.
Kini, yang tersisa hanyalah beberapa gedung kelas saja yang terekspos dan tiang penahan sehelai pintu, yang menurut cerita anak anak dilokasi adalah sisa bangunan kantor guru yang hancur, merunduk pilu ke arah sungai yang masih menyuarakan dendamnya.
Namun, di sore yang temaram dan basah, di samping sisa puing yang berserakan, saya menyaksikan sebuah anomali. Tiga jiwa kecil pewaris ketabahan duduk menghadap sungai yang ganas.
Kursi kayu yang entah bagaimana selamat, dan satu meja darurat, menjadi takhta bagi jeda mereka. Mereka hanya duduk, dalam keheningan sore, mencari jeda dari kebisingan bencana.
Gadis kecil dengan kaos merah berlabel ‘Nezuko’ duduk santai, mungkin berbagi cerita sunyi dengan temannya. Momen ini adalah cara paling jujur anak-anak berkata kepada bencana: “Kau boleh ambil sekolah kami, tapi kau tak bisa ambil sore kami.”
Saat senja menjelang Magrib, saya berhasil bertemu dengan tokoh sentral yang memegang beban duka warganya. Keuchik Gampong Jambak, Lainaidi, menuturkan data kerugian dengan suara yang sarat keprihatinan.
“Kerusakan ini sangat parah. Kami mencatat setidaknya empat rumah warga hilang total diterjang arus. Lebih dari itu, kami kehilangan pusat administrasi kami; kantor keuchik ambruk sepenuhnya,” tutur Lainaidi.
Dampak bencana meluas jauh melampaui permukiman. Puluhan hektar persawahan sumber penghidupan utama warga juga rusak parah, tertimbun lumpur tebal dan tumpukan kayu glondongan yang dibawa banjir. Ditambah ambruknya bangunan sekolah, infrastruktur dasar Gampong Jambak lumpuh total.
“Kami sangat berharap Pemerintah segera turun tangan membantu pemulihan. Bantuan yang paling mendesak adalah akses,” tambahnya.
Meski duka masih meliputi, secercah harapan mulai terlihat. Menurut Keuchik Lainaidi, pada hari itu juga Pemerintah telah merespons cepat dengan menurunkan satu unit ekskavator untuk membuka kembali akses jalan yang tertutup material banjir bandang dan kayu.
Di balik data statistik kerugian yang menyayat, potret anak-anak di reruntuhan SDN Alue Lhok adalah pengingat bahwa pemulihan tidak hanya tentang membangun kembali beton, tetapi juga mengobati jiwa.
Di sana, di tepi sungai yang mengambil segalanya, mereka adalah masa depan yang menolak untuk tenggelam. Mereka mengajarkan, bahwa harapan itu kadang berbentuk tiga punggung kecil yang duduk santai, yakin bahwa esok, matahari akan terbit lagi di atas Gampong Jambak.

