BSINews.id | Banda Aceh – Angka stunting di Aceh masih tergolong tinggi. Berdasarkan data BKKBN Aceh, terdapat 38.004 keluarga berisiko stunting (KRS) yang harus mendapatkan pendampingan pada tahun 2025.
Kepala Perwakilan BKKBN Aceh, Safrina Salim, mengatakan upaya ini dilakukan melalui program Genting (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting), salah satu program strategis nasional. Program ini menargetkan keluarga selama seribu hari pertama kehidupan (HPK) anak, mulai dari kehamilan hingga usia balita.
“Periode seribu hari pertama merupakan masa emas pertumbuhan anak. Dengan pendampingan yang tepat, anak dapat tumbuh dan berkembang sesuai usianya,” jelas Safrina usai kegiatan FGD Genting bersama mitra Pentahelix dan media, Selasa (11/11/2025).
Untuk memastikan pendampingan berjalan efektif, Tim Pendamping Keluarga (TPK) dibentuk di setiap desa. Tim ini terdiri dari bidan desa, kader KB, dan ibu-ibu PKK, yang bertugas membimbing keluarga berisiko stunting secara langsung.
Safrina menambahkan, program Genting merupakan langkah nyata Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemenduk Bangga) untuk menurunkan angka stunting secara signifikan.
Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), angka stunting di Aceh saat ini berada di 28,06 persen. Safrina menekankan, jika pendampingan dimulai sejak kehamilan, anak akan lahir sehat dan dapat menekan risiko kematian ibu, kematian balita, dan stunting.
“Jika sejak hamil kita memback up, anak lahir sehat, tentu tidak akan memberi kontribusi negatif pada angka kematian ibu, kematian balita, dan stunting,” tambahnya.

